“Setelah mengecek di lapangan, saya mengakui keteledoran petugas puskesmas dalam penyimpanan biskuit dan susu PMT. Atas keteledoran tersebut, saya minta maaf,” kata Kepala Dinas Dinkes Surabaya dr Esti Martiana Rachmie kemarin (19/6). Dia juga mengaku telah mengunjungi tiga balita yang keracunan tersebut.
Seperti diberitakan, tiga balita penderita gizi buruk mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan tambahan yang dibagikan oleh Puskesmas Morokrembangan. Ironisnya, makanan yang dibagikan merupakan bagian program pengentasan anak gizi buruk. Tiga balita itu adalah Ahmad Diki, 18 bulan, warga Babadan Rukun; Zahratul Sinta Salsabila, 21 bulan, warga Babadan Rukun; dan Suci Agustin, 4, warga Dupak Rukun.
Esti menjelaskan, tercampurnya biskuit dan susu PMT untuk 2007 dan 2008 juga tidak lepas dari kondisi bangunan Puskesmas Morokrembangan, termasuk gudang, yang sedang direnovasi. Akibatnya, ada sisa PMT tahun lalu yang bercampur dengan program 2008. Sisa PMT tahun lalu itu berupa satu dus biskuit (berisi 144 bungkus) dengan masa kedaluwarsa 1 Mei 2008 dan susu yang masa kedaluwarsanya 17 Juli 2008.
Ketika puskesmas mengadakan penyuluhan pada Selasa lalu, biskuit dan susu sisa PMT tahun lalu turut diberikan kepada masyarakat. Saat itu, penyuluhan dihadiri oleh 37 balita penderita gizi buruk. “Tiga balita yang keracunan tersebut juga menerima biskuit dan susu sisa PMT tahun lalu,” ungkap mantan kepala Bappemas KB Kota Surabaya itu.
Begitu tahu ada PMT tahun lalu yang ikut terbagi kepada masyarakat, Kepala Puskesmas Morokrembangan dr Nurul Laila langsung meminta para kader posyandu melacak dan menarik paket tersebut. “Tapi, tidak semua paket PMT terlacak dan bisa dikembalikan,” jelas Esti.
Mengapa masih ada sisa paket PMT tahun lalu? Dokter berjilbab itu mengatakan, ada 37 balita gizi buruk di wilayah tersebut yang mendapatkan PMT. Namun, tak semua balita hadir secara rutin. “Karena ada balita yang tak hadir, paket PMT tersisa,” tuturnya.
Agar kejadian tersebut tak terulang, kemarin Esti mengumpulkan semua kepala puskesmas dan meminta mereka mengecek ulang sisa paket PMT tahun lalu. “Jika ada sisa paket tahun lalu, segera setorkan ke dinkes biar tak tercampur dengan paket PMT baru,” ucapnya.
Di bagian lain, Nurul mengatakan bahwa mamin (makanan dan minuman) PMT yang telanjur dibagi itu merupakan jatah anak yang telah pindah tahun lalu. Tak lama kemudian, bangunan puskesmas direnovasi sehingga makanan dipindahkan ke gudang. Mamin kedaluwarsa tersebut lantas secara tak sengaja tercampur ketika ada dropping makanan baru. “Ditumpuk begitu saja oleh petugas. Kami tak tahu bahwa makanan itu ikut terdistribusikan,” tegasnya.
Satu jam setelah pembagian, lanjut Nurul, pihaknya telah mendapatkan laporan tentang PMT kedaluwarsa tersebut. “Saat itu juga saya memerintahkan penarikan makanan tersebut,” ucapnya.
Petugas puskesmas juga telah mendatangi 27 anak gizi buruk yang telanjur menerima mamin PMT itu. “Semuanya mau mengembalikan, kecuali Pak Isbanu (ayah Ahmad Diki, Red). Alasannya, untuk ekspos ke wartawan sebagai bukti buruknya kinerja layanan publik,” kata Nurul.
Namun, dia memastikan bahwa seluruh masalah tersebut telah diselesaikan kemarin pagi. “Kami sudah melakukan evaluasi dan koordinasi. Memang sama sekali tak ada unsur kesengajaan,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Ahmad Jabir mengatakan bahwa dewan tetap akan memanggil semua pihak terkait dengan masalah tersebut. “Rencananya, minggu depan,” tegas kader PKS itu. Menurut dia, perlu tetap dilakukan evaluasi terkait dengan masalah tersebut. (ai/ano/fat)