«

»

May
07

LANGKAH BESAR Membangun Kembali Indonesia

Adzab atas Negeri

Sudah cukup lama Indonesia terpuruk. Negeri yang semula berlimpah dengan beragam karunia Allah SWT, telah berubah menjadi ladang penderitaan dan kesengsaraan. Kenyataan pahit ini adalah sebentuk adzab yang Allah timpahkan kepada penduduk negeri, lantaran telah melupakan nikmat-nikmat besar dari Sang Pencipta.

“Dan Allah telah membuat sesuatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka  pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”

(QS. An-Nahl: 112).

Potret penderitaan negeri ini sudah sedemikian dahsyat. Bukan saja bumi yang tidak lagi menyediakan dirinya sebagai hamparan indah bagi penduduknya, dan langit tidak lagi sebagai naungan yang menyejukkan, bahwa jiwa-jiwa manusia penduduk negeri ini telah menjelma menjadi pemangsa antar sesama (homo homini lupus). Inilah puncak adzab yang sedang ditanggung negeri ini sebagai akibat dari perbuatan kufur nikmat penduduknya.

“ Dia-lah Allah yang berkuasa untuk mendatangkan kepada kamu adzab dari atas (diri) kamu atau dari bawah kaki kamu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bermusuhan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti, agar mereka memahaminya.” (QS. Al-An`am: 65).

Kerusakan! Itulah kata yang tepat utnuk melukiskan kondisi kehidupan yang sedang berlangsung di Tanah Air kita. Bumi semula kaya-raya telah porak-poranda oleh ketamakan tangan-tangan penduduknya. Bahkan, mereka tidak pernah menyadari jika telah menjadi kaum perusak. Sebaliknya mereka tetap berdalih sebagai kaum yang selalu melakukan perbaikan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

(QS. Ar-Ruum: 41).

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menbuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”

(QS. Al-Baqarah: 11 – 12).

Penguasa Zalim Penyebab Kerusakan

Allah SWT menyebut manusia-manusia perusak kehidupan itu sebagai “penjahat-penjahat terbesar” (akabira mujrimin) yang pandai menipu manusia demi keserakahan dirinya sendiri. Mereka adalah orang-orang kerdil yang menggunakan kekuasaan untuk menghimpun dan menimbun harta-harta duniawi, tanpa perduli akibat dari perbuatan jahatnya.

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tuap negeri penjahat-penjahat besar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-An`am: 123).

“Dan jika Kami hendak membinasakan sesuatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakuakan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

(QS. Al-Israa`: 16).

Jelaslah, kehancuran total dan dasyat yang menimpa megeri ini bukan karena penduduknya banyak yang kufur nikmat, tetapi juga lantaran ada “penjahat-penjahat terbesar” yang menggunakan kekuasaannya untuk memuaskan nafsu jahat duniawinya sendiri. Demikianlah, kenyataan penjahat terbesar” telah menduduki tahta kekuasaan dan kepemimpinan yang penuh dengan lumuran dosa.

Akan tetapi “tangan” Allah Yang Maha Perkasa tidak pernah membiarkan kesewenangan mereka berlangsung terus-menerus, walaupun penduduk negeri itu terjebak kepada ketidakberdayaan dan keputusasaan.

“Apakah mereka tidak memperhatikan betapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi) itu telah Kami teguhkan kekuasaannya di muka bumi, yaitu kekuasaan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami jadikan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al An`am: 6).

Allah SWT berkehendak menghancurkan penguasa-penguasa zhalim itu untuk menghentikan kerusakan yang akan menghancurkan kehidupan di bumi ini. Dan untuk itu, Allah akan selalu memunculkan sekelompok manusia yang secara konsisten menegakkan “amar makruf nahi munkar”.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah, dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, pastu rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karuniah (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251).

Dinegeri ini, Gerakan reformasi yang digencarkan sejak Mei 1998 telah menjadi kekuatan yang menghancurkan kekuasaan yang “pogah dan bebal”. Krisis ekonomi yang datang tiba-tiba menjadi jalan yang Allah SWT sediakan untuk memulai perubahan.

Maka tatkalah mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada, Kami adzab mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnakan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

(QS. Al`An`am: 44-45).

Sekali lagi, Allah SWT dengan cara-Nya sendiri telah menghancurkan penguasa yang zalim untuk kemudian digantikan oleh penguasa lainnya. Penguasa yang akan mengembalikan kehidupan ini kepada kebaikannya. Lalu, siapakah atau seperti apakah “penguasa penganti” yang dikehendaki oleh Allah SWT? Jawabannya adalah:

“…Orang-orang yang jika Kami teguhkan kekuasaanna di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah kepada yang mungkar; dan kepada Allah lah kembali semua urusan.” (QS. Al-Hajj: 41).

Perbaikan Mensyaratkan Pemimpin yang Baik

Pandangan Islam sudah demikian jelas! Menghidupkan kembali kehidupan suatu negeri yang sudah porak-poranda, mensyaratkan munculnya pemimpin dan kepemimpinan yang baik (good leadership and governance). Sebagiamana Allah memunculkan Thalut dan Daud untuk mengantikan Jalut, atau sebagaimana Allah memunculkan Yusuf untuk menyelamatkan negeri Mesir yang nyaris bangkrut.

Pemimpin dan kepemimpinan yang baik hanya akan tanpil dari orang-ornag yang bermoral kuat dan yang senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya. Dalam bahasa Islam yaitu orang-orang yang ”beriman dan beramal shaleh”. Dari sinilah akan mengalir “energi besar” sebuah bangsa untuk bangkit dan membangun kembali kehidupannya. “Energi besar”, karena sang pemimpin berusaha kuat untuk senantisa berjalan dan bekerja dengan bimbingan Allah, pencipta dan pengatur kehidupan alam semesta. Sebuah bangsa terpurung nyarins meluncur ke jurang kehancuran akan kembali bangkit di bawah kepemimpinan figur yang “beriman dan beramal saleh”. Inilah janji Allah!

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sunguh-sunguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sunguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutuhkan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nuur: 55)

Dan sinilah, Islam mengajarkan kepada umatnya dan semua manusia untuk memilih pemimpin dengan benar. Melalui cara apapun – termasuk Pemilihan Umum – penduduk sebuah negeri diajarkan untuk menyeleksi pimpinan dari orang-orang yang memiliki komitmen kebenaran dan senantiasa mewujudkan nilai-nilai kebenaran itu dalam kehidupannya sehari-hari, dan bukan sebatas retorika politik semata. Dan sebaliknya, Islam melarang keras kepada penduduk negeri (dari golongan yang beriman) untuk mengankat orang-orang yang melecehkan kebenaran, sebagai pemimpin mereka.

“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yaitu yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya,maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maaidah: 55-56).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang menbuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.” (QS. Al-Maaidah: 57).

Langkah Besar Perbaikan

Dalam surah An-Nuur ayat 55 seperti disebutkan di atas, pemimpin atau penguasa yang beriman dan beramal saleh – dengan bimbingan Allah SWT – mengamalkan 3 (tiga) langkah besar untuk melakukan perbaikan kehidupan secara total.

Pertama, Tamkin ad-diin, atau mengokohkan kembali nilai spiritual dan ajaran sebagai orientasi dan pedoman kehidupan semua warga masyarakat. Agama mengajarkan prinsip dasar bahwa manusia dan kehidupan alam semesta ini berasal dari Allah Sang Pencipta, dan diadakan untuk tujuan mengabdi kepada-Nya. Agama juga menunjukkan kepada manusia jalan-jalan untuk mengelolah kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan alam semesta raya ini. Dengan begitu, agama menjadi sumber moralitas dan perilaku yang benar dan baik bagi warga masyarakat, termasuk semua pemimpinnya. Inilah yang sungguh-sungguh mulai lenyap dari jagat kehidupan penduduk negeri ini.

“….Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39).

Kedua, Tabdil Al-hayah, atau melakukan perubahan total dan radikal terhadap berbagai aspek mendasar kehidupan. Kekuasaan memiliki amanah untuk melakukan isti`mar al ardh atau memakmurkan bumi, sehingga semua penduduknya merasa aman dan sentosa hidup didalamnya.

“….Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuahn selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dan bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurannya….” (QS. Huud: 61).

Pemakmuran kehidupan di bumi berpijak pada prinsip pendayagunaan semua sumberdaya yang Allah berikan dan tundukkan bagi manusia, tanpa dirasuki motof untuk melakukan perusakan di dalamnya.

“Tdaklah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu rahmat-Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang menberi penerangan.” (QS. Luqman: 30)

Prinsip pendayagunaan yang tidak merusak berjalan ketika manusia menggunakan rasionalitas akalnya, yang menjadi kelebihan atau keistimewaan di hadapan mahluk-mahluk lain yang Allah ciptakan hanya akan melahirkan manusia-manusia rakus dan perusak yang bekerja hanya untuk hawa nafsu durjananya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa: 70)

pada saat bersamaan, rasionalitas akal pikiran dalam mendayagunakan semua potensi sumberdaya untuk memakmurkan semua potensi sumberdaya untuk memakmurkan kehidupan, harus diikuti dengan sikap moral mental yang senantiasa mensyukuri semua hasil dan nikmat yang didapatkan. Karena sikap mental (mental model) semacam inilah yang mampu meningkatkan kemakmuran dan menambah rizki dari Allah SWT.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

sikap mental syukur nikmat ditandai dengan suburnya rasa solidaritas sosial terhadap kaum fakir-miskin dan dijauhinya perilaku berlebihan dalam urusan materi,atau perilaku mubazir, karena inilah wujud perilaku buruk syaitan.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adlah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya.” (QS. Al-Israa: 26-27)

Prinsip dasar berikutnya dari tabdil al-hayah adalah adil, yaitu rekonstruksi kehidupan ekonomi,polotik, hukum, sosial, dan budaya harus diwarnai prinsip keadilan yang dirasakan oleh para penduduk negeri. Prinsip keadilan ini mensyaratkan adanya permasalahan yang utuh dan mendalam terhadap berbagai permasalahan kehidupan, diikuti sikap tegas dan jelas dalam mengambil kebijakan yang berorientasi kepada kemaslahatan dan mengatur secara kuat semua proses kehidupan masyarakat tanpa terkecuali.

“…Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maaidah: 8)

Ketiga, Ri`ayah Al-mashalil Al-ijtima`, atau memelihara potensi kebaikan masyarakat. Salah satu pintu kehancuran kehidupan sebuah negeri adalah ketika para pemimpin dan penduduknya tidak mau dan tidak mampu memelihara semua potensi yang telah memiliki dan dibangunya. Justru sebaliknya, terjadi penghancuran secara sistematis dan masif, tanpa mereka sadari. Allah mengingatkan manusia tentang orang-orang yang mengadakan sesuatu yang dipandang baik, tetapi kemudian mereka merusaknya sendiri lantaran tidak mampu memeliharanya.

“…Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 28)

Ri`ayah al-mashalih al-ijtima`iyyah pada hakikatnya adalah sikap hidup seluruh penduduk negeri beserta para pemimpinnya untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, menjauhi segala hal yang bisa merusak dan selalu menegakkan amar ma`ruf nahi munkar.

“….orang-orang yang jika Kami teguhkan kekuasaannya di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan Allah lah kembali semua urusan.” (QS. Al-Hajj: 41).

Inilah “Tiga Langkah Basar” (Three Big steps) untuk melakukan perbaikan kehidupan yang sebelumnya sudah porak-poranda. Tiga langkah ini akan melahirkan kembali iklim “iman dan taqwa” pada penduduk negeri ini dan pada para pemimpinnya, sebagai syarat terbukanya pintu-pintu keberkahan hidup dari Allah SWT, Dzat Yang Maha Kaya.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berhak dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A`raaf: 96).

Inilah pandangan dasar yang diyakini Partai Keadilan (Partai Keadilan) Sejahtera, sebagai kekuatan dakwah Islam yang mengemban tanggung-jawab untuk menyelamatkan kehidupan dan membangunnya kembali sebagai “hayatun thayyibah”, atau kehidupan yang baik (good quality of life). Para pemimpin dan penduduk negeri, hendaknya memperhatikan Allah SWT yang amat keras:

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (dihancurkan) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami akan adzab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”

(QS. Al-A`raaf:100).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>