<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Situs Aspirasi Keadilan &#187; Humaniora</title>
	<atom:link href="http://www.jabir-pks.org/category/humaniora/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jabir-pks.org</link>
	<description>Aleg PKS JATIM</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Aug 2010 05:52:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>LANGKAH BESAR Membangun Kembali Indonesia</title>
		<link>http://www.jabir-pks.org/2010/langkah-besar-membangun-kembali-indonesia/</link>
		<comments>http://www.jabir-pks.org/2010/langkah-besar-membangun-kembali-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 13:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jabir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jabir-pks.org/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Adzab atas Negeri
Sudah cukup lama Indonesia terpuruk. Negeri yang semula berlimpah dengan beragam karunia Allah SWT, telah berubah menjadi ladang penderitaan dan kesengsaraan. Kenyataan pahit ini adalah sebentuk adzab yang Allah timpahkan kepada penduduk negeri, lantaran telah melupakan nikmat-nikmat besar dari Sang Pencipta.
“Dan Allah telah membuat sesuatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adzab atas Negeri</h2>
<p>Sudah cukup lama Indonesia terpuruk. Negeri yang semula berlimpah dengan beragam karunia Allah SWT, telah berubah menjadi ladang penderitaan dan kesengsaraan. Kenyataan pahit ini adalah sebentuk adzab yang Allah timpahkan kepada penduduk negeri, lantaran telah melupakan nikmat-nikmat besar dari Sang Pencipta.</p>
<p><em>“Dan Allah telah membuat sesuatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka  pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”</em></p>
<p><strong>(QS. An-Nahl: 112).</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Potret penderitaan negeri ini sudah sedemikian dahsyat. Bukan saja bumi yang tidak lagi menyediakan dirinya sebagai hamparan indah bagi penduduknya, dan langit tidak lagi sebagai naungan yang menyejukkan, bahwa jiwa-jiwa manusia penduduk negeri ini telah menjelma menjadi pemangsa antar sesama (<em>homo homini lupus</em>). Inilah puncak adzab yang sedang ditanggung negeri ini sebagai akibat dari perbuatan kufur nikmat penduduknya.</p>
<p><em>“ Dia-lah Allah yang berkuasa untuk mendatangkan kepada kamu adzab dari atas (diri) kamu atau dari bawah kaki kamu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bermusuhan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti, agar mereka memahaminya.”</em> <strong>(QS. Al-An`am: 65).</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kerusakan! Itulah kata yang tepat utnuk melukiskan kondisi kehidupan yang sedang berlangsung di Tanah Air kita. Bumi semula kaya-raya telah porak-poranda oleh ketamakan tangan-tangan penduduknya. Bahkan, mereka tidak pernah menyadari jika telah menjadi kaum perusak. Sebaliknya mereka tetap berdalih sebagai kaum yang selalu melakukan perbaikan.</p>
<p><em> “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” </em></p>
<p><strong>(QS. Ar-Ruum: 41). </strong></p>
<p><em> “Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menbuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” </em></p>
<p><strong>(QS. Al-Baqarah: 11 – 12).</strong></p>
<h2>Penguasa Zalim Penyebab Kerusakan</h2>
<p>Allah SWT menyebut manusia-manusia perusak kehidupan itu sebagai “penjahat-penjahat terbesar” (<em>akabira mujrimin</em>) yang pandai menipu manusia demi keserakahan dirinya sendiri. Mereka adalah orang-orang kerdil yang menggunakan kekuasaan untuk menghimpun dan menimbun harta-harta duniawi, tanpa perduli akibat dari perbuatan jahatnya.</p>
<p><em> “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tuap negeri penjahat-penjahat besar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”</em> <strong>(QS. Al-An`am: 123).</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan jika Kami hendak membinasakan sesuatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakuakan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”</em></p>
<p><strong>(QS. Al-Israa`: 16).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jelaslah, kehancuran total dan dasyat yang menimpa megeri ini bukan karena penduduknya banyak yang kufur nikmat, tetapi juga lantaran ada “penjahat-penjahat terbesar” yang menggunakan kekuasaannya untuk memuaskan nafsu jahat duniawinya sendiri. Demikianlah, kenyataan penjahat terbesar” telah menduduki tahta kekuasaan dan kepemimpinan yang penuh dengan lumuran dosa.</p>
<p>Akan tetapi “tangan” Allah Yang Maha Perkasa tidak pernah membiarkan kesewenangan mereka berlangsung terus-menerus, walaupun penduduk negeri itu terjebak kepada ketidakberdayaan dan keputusasaan.</p>
<p><em>“Apakah mereka tidak memperhatikan betapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi) itu telah Kami teguhkan kekuasaannya di muka bumi, yaitu kekuasaan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami jadikan sesudah mereka generasi yang lain.” <strong>(QS. Al An`am: 6).</strong></em></p>
<p>Allah SWT berkehendak menghancurkan penguasa-penguasa zhalim itu untuk menghentikan kerusakan yang akan menghancurkan kehidupan di bumi ini. Dan untuk itu, Allah akan selalu memunculkan sekelompok manusia yang secara konsisten menegakkan <em>“amar makruf nahi munkar”.</em></p>
<p><em>“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah, dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, pastu rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karuniah (yang dicurahkan) atas semesta alam.” <strong>(QS. Al-Baqarah: 251).</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dinegeri ini, Gerakan reformasi yang digencarkan sejak Mei 1998 telah menjadi kekuatan yang menghancurkan kekuasaan yang “pogah dan bebal”. Krisis ekonomi yang datang tiba-tiba menjadi jalan yang Allah SWT sediakan untuk memulai perubahan.</p>
<p>“<em>Maka tatkalah mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada, Kami adzab mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnakan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”</em></p>
<p><strong><em>(QS. Al`An`am: 44-45).</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sekali lagi, Allah SWT dengan cara-Nya sendiri telah menghancurkan penguasa yang zalim untuk kemudian digantikan oleh penguasa lainnya. Penguasa yang akan mengembalikan kehidupan ini kepada kebaikannya. Lalu, siapakah atau seperti apakah “penguasa penganti” yang dikehendaki oleh Allah SWT? Jawabannya adalah:</p>
<p><em>“…Orang-orang yang jika Kami teguhkan kekuasaanna di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah kepada yang mungkar; dan kepada Allah lah kembali semua urusan.” <strong>(QS. Al-Hajj: 41).</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Perbaikan Mensyaratkan Pemimpin yang Baik</strong></p>
<p>Pandangan Islam sudah demikian jelas! Menghidupkan kembali kehidupan suatu negeri yang sudah porak-poranda, mensyaratkan munculnya pemimpin dan kepemimpinan yang baik (<em>good leadership and governance</em>). Sebagiamana Allah memunculkan Thalut dan Daud untuk mengantikan Jalut, atau sebagaimana Allah memunculkan Yusuf untuk menyelamatkan negeri Mesir yang nyaris bangkrut.</p>
<p>Pemimpin dan kepemimpinan yang baik hanya akan tanpil dari orang-ornag yang bermoral kuat dan yang senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya. Dalam bahasa Islam yaitu orang-orang yang ”beriman dan beramal shaleh”. Dari sinilah akan mengalir “energi besar” sebuah bangsa untuk bangkit dan membangun kembali kehidupannya. “Energi besar”, karena sang pemimpin berusaha kuat untuk senantisa berjalan dan bekerja dengan bimbingan Allah, pencipta dan pengatur kehidupan alam semesta. Sebuah bangsa terpurung nyarins meluncur ke jurang kehancuran akan kembali bangkit di bawah kepemimpinan figur yang “beriman dan beramal saleh”. Inilah janji Allah!</p>
<p><em>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sunguh-sunguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sunguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutuhkan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. <strong>(QS. An-Nuur: 55)</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan sinilah, Islam mengajarkan kepada umatnya dan semua manusia untuk memilih pemimpin dengan benar. Melalui cara apapun – termasuk Pemilihan Umum – penduduk sebuah negeri diajarkan untuk menyeleksi pimpinan dari orang-orang yang memiliki komitmen kebenaran dan senantiasa mewujudkan nilai-nilai kebenaran itu dalam kehidupannya sehari-hari, dan bukan sebatas retorika politik semata. Dan sebaliknya, Islam melarang keras kepada penduduk negeri (dari golongan yang beriman) untuk mengankat orang-orang yang melecehkan kebenaran, sebagai pemimpin mereka.</p>
<p><em>“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yaitu yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya,maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” <strong>(QS. Al-Maaidah: 55-56).</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang menbuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.” <strong>(QS. Al-Maaidah: 57).</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Langkah Besar Perbaikan</strong></p>
<p>Dalam surah An-Nuur ayat 55 seperti disebutkan di atas, pemimpin atau penguasa yang beriman dan beramal saleh – dengan bimbingan Allah SWT – mengamalkan 3 (tiga) langkah besar untuk melakukan perbaikan kehidupan secara total.</p>
<p>Pertama, Tamkin ad-diin, atau mengokohkan kembali nilai spiritual dan ajaran sebagai orientasi dan pedoman kehidupan semua warga masyarakat. Agama mengajarkan prinsip dasar bahwa manusia dan kehidupan alam semesta ini berasal dari Allah Sang Pencipta, dan diadakan untuk tujuan mengabdi kepada-Nya. Agama juga menunjukkan kepada manusia jalan-jalan untuk mengelolah kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan alam semesta raya ini. Dengan begitu, agama menjadi sumber moralitas dan perilaku yang benar dan baik bagi warga masyarakat, termasuk semua pemimpinnya. Inilah yang sungguh-sungguh mulai lenyap dari jagat kehidupan penduduk negeri ini.</p>
<p><em>“….Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” <strong>(QS. Al-Baqarah: 38-39).</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Kedua, </strong><em>Tabdil Al-hayah, </em>atau melakukan perubahan total dan radikal terhadap berbagai aspek mendasar kehidupan. Kekuasaan memiliki amanah untuk melakukan <em>isti`mar al ardh </em>atau memakmurkan bumi, sehingga semua penduduknya merasa aman dan sentosa hidup didalamnya.</p>
<p><em>“….Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuahn selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dan bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurannya….” <strong>(QS. Huud: 61).</strong></em></p>
<p>Pemakmuran kehidupan di bumi berpijak pada prinsip pendayagunaan semua sumberdaya yang Allah berikan dan tundukkan bagi manusia, tanpa dirasuki motof untuk melakukan perusakan di dalamnya.</p>
<p><em>“Tdaklah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu rahmat-Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang menberi penerangan.” <strong>(QS. Luqman: 30)</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Prinsip pendayagunaan yang tidak merusak berjalan ketika manusia menggunakan rasionalitas akalnya, yang menjadi kelebihan atau keistimewaan di hadapan mahluk-mahluk lain yang Allah ciptakan hanya akan melahirkan manusia-manusia rakus dan perusak yang bekerja hanya untuk hawa nafsu durjananya.</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan.” <strong>(QS. Al-Israa: 70)</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>pada saat bersamaan, rasionalitas akal pikiran dalam mendayagunakan semua potensi sumberdaya untuk memakmurkan semua potensi sumberdaya untuk memakmurkan kehidupan, harus diikuti dengan sikap moral mental yang senantiasa mensyukuri semua hasil dan nikmat yang didapatkan. Karena sikap mental (<em>mental model</em>) semacam inilah yang mampu meningkatkan kemakmuran dan menambah rizki dari Allah SWT.</p>
<p><em>“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” <strong>(QS. Ibrahim: 7)</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>sikap mental syukur nikmat ditandai dengan suburnya rasa solidaritas sosial terhadap kaum fakir-miskin dan dijauhinya perilaku berlebihan dalam urusan materi,atau perilaku mubazir, karena inilah wujud perilaku buruk syaitan.</p>
<p><em>“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adlah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya.” <strong>(QS. Al-Israa: 26-27)</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Prinsip dasar berikutnya dari <em>tabdil al-hayah</em> adalah adil, yaitu rekonstruksi kehidupan ekonomi,polotik, hukum, sosial, dan budaya harus diwarnai prinsip keadilan yang dirasakan oleh para penduduk negeri. Prinsip keadilan ini mensyaratkan adanya permasalahan yang utuh dan mendalam terhadap berbagai permasalahan kehidupan, diikuti sikap tegas dan jelas dalam mengambil kebijakan yang berorientasi kepada kemaslahatan dan mengatur secara kuat semua proses kehidupan masyarakat tanpa terkecuali.</p>
<p><em>“…Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” <strong>(QS. Al-Maaidah: <img src='http://www.jabir-pks.org/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Ketiga, </strong><em>Ri`ayah Al-mashalil Al-ijtima`, </em>atau memelihara potensi kebaikan masyarakat. Salah satu pintu kehancuran kehidupan sebuah negeri adalah ketika para pemimpin dan penduduknya tidak mau dan tidak mampu memelihara semua potensi yang telah memiliki dan dibangunya. Justru sebaliknya, terjadi penghancuran secara sistematis dan masif, tanpa mereka sadari. Allah mengingatkan manusia tentang orang-orang yang mengadakan sesuatu yang dipandang baik, tetapi kemudian mereka merusaknya sendiri lantaran tidak mampu memeliharanya.</p>
<p><em>“…Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” <strong>(QS. Al-Hadid: 28)</strong></em></p>
<p><em>Ri`ayah al-mashalih al-ijtima`iyyah </em>pada hakikatnya adalah sikap hidup seluruh penduduk negeri beserta para pemimpinnya untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, menjauhi segala hal yang bisa merusak dan selalu menegakkan <em>amar ma`ruf nahi munkar</em>.</p>
<p><em>“….orang-orang yang jika Kami teguhkan kekuasaannya di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan Allah lah kembali semua urusan.” <strong>(QS. Al-Hajj: 41).</strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Inilah “<strong>Tiga Langkah Basar</strong>” (<strong><em>Three Big steps</em></strong>) untuk melakukan perbaikan kehidupan yang sebelumnya sudah porak-poranda. Tiga langkah ini akan melahirkan kembali iklim “iman dan taqwa” pada penduduk negeri ini dan pada para pemimpinnya, sebagai syarat terbukanya pintu-pintu keberkahan hidup dari Allah SWT, Dzat Yang Maha Kaya.</p>
<p><em> “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berhak dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> <strong>(QS. Al-A`raaf: 96).</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Inilah pandangan dasar yang diyakini Partai Keadilan (Partai Keadilan) Sejahtera, sebagai kekuatan dakwah Islam yang mengemban tanggung-jawab untuk menyelamatkan kehidupan dan membangunnya kembali sebagai “<em>hayatun thayyibah</em>”, atau kehidupan yang baik (<em>good quality of life</em>). Para pemimpin dan penduduk negeri, hendaknya memperhatikan Allah SWT yang amat keras:</p>
<p><em>“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (dihancurkan) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami akan adzab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” </em></p>
<p><strong><em>(QS. Al-A`raaf:100).</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jabir-pks.org/2010/langkah-besar-membangun-kembali-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukseskah Ibadah Ramadhan Kita?</title>
		<link>http://www.jabir-pks.org/2009/sukseskah-ibadah-ramadhan-kita/</link>
		<comments>http://www.jabir-pks.org/2009/sukseskah-ibadah-ramadhan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 06:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jabir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jabir-pks.org/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[
 Secara bahasa, puasa (shiyam) artinya menahan, yakni menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dan mengurangi nilainya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sedangkan Ramadhan, secara harfiyah, artinya membakar dan mengasah. 
 Yang dimaksud membakar adalah membakar dosa sehingga dengan puasa yang benar dan baik dosa-dosa seorang muslim akan dibakar oleh Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"> Secara bahasa, puasa (<em>shiyam</em>) artinya menahan, yakni menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dan mengurangi nilainya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sedangkan <em>Ramadhan</em>, secara harfiyah, artinya membakar dan mengasah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Yang dimaksud membakar adalah<span> </span>membakar dosa sehingga dengan puasa yang benar dan baik dosa-dosa seorang muslim akan dibakar oleh Allah dan setelah Ramadhan insya Allah dia akan kembali kepada fitrah atau kesuciannya sehinga seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya, yakni dalam keadaan tidak berdosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Adapun yang dimaksud dengan mengasah adalah mengasah dan mengasuh jiwa, sehingga seorang<span> </span>yang berpuasa akan memiliki ketajaman jiwa yang membuatnya cepat, mudah dan mampu menangkap isyarat-isyarat spiritual, jiwanya menjadi kaya dan tidak didominasi lagi oleh sifat sombong, iri, dengki, bangga diri, memandang rendah orang lain dan sifat-sifat buruk lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Dalam rentang masa sekian tahun kita lalui, tentunya kita cukup paham akan tujuan utama dari disyari’atkannya ibadah puasa oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah <em>(QS 2:183) </em><span>yang </span>artinya: “<em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”</em><span>, tujuan disyariatkan ibadah Ramadhan </span>adalah untuk memantapkan keimanan kepada Allah Swt sehingga menjelma keimanan itu menjadi ketaqwaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Manakala target dari ibadah puasa ini dapat dicapai, maka puasa akan membuat kita menjadi orang istimewa yang memiliki tiga hal. <strong><em>Pertama</em></strong><em>,</em><span> </span>mencegah diri dari segala bentuk dusta sebab dalam hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dinyatakan bahwa Allah Swt tidak menerima puasa seseorang yang tidak meninggalkan perkataan dusta. “<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji (dusta) dan melakukan kejahatan, Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span><strong><em>Kedua</em></strong>, memiliki benteng pertahanan rohani yang kuat sehingga dia menjadi orang yang mampu menjaga dan mencegah dirinya dari dosa, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: <em>Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisainya seseorang diantara kamu dalam perang (HR. Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span><strong><em>Ketiga</em></strong>, selalu terangsang untuk berbuat baik, karena ibadah Ramadhan memang selalu mendidik seseorang untuk melakukan kebaikan, baik terhadap Allah Swt maupun terhadap sesama manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span></span></em><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;">Disamping itu, berdasarkan QS Al Baqarah: 184-188, bisa kita ambil beberapa hikmah tentang tujuan-tujuan lain dari ibadah Ramadhan, yaitu: <strong><em>Pertama</em></strong><em>,</em> memperkokoh kedekatan kepada Al-Qur’an sehingga kita selalu berusaha bisa membaca, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. <strong><em>Kedua</em></strong><em>,</em> memperkokoh kedekatan hubungan kepada Allah Swt sehingga dengan hubungan yang dekat itu, kita tidak berani menyimpang dari ketentuan-ketentuan Allah. <strong><em>Ketiga</em></strong><em>,</em> menyadari akan pentingnya berdo’a kepada Allah karena kita menyadari sebagai makhluk yang lemah dan amat membutuhkan pertolongan Allah. <strong><em>Keempat</em></strong><em>,</em> menajamkan hati atau jiwa sehingga kita selalu mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil serta sensitif terhadapnya.<em> <strong>Kelima</strong></em>, menyadari pentingnya kebersamaan dengan sesama muslim, karena dengan puasa kita dapat membayangkan bahkan dapat merasakan bagaimana penderitaan mereka yang susah sehingga kita menyadari keharusan bersatu dan tolong menolong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Jelas sudah bagi kita betapa indahnya kehidupan kita, ummat dan bangsa ini, jika mampu menjalankan ibadah puasa romadhan yang serius dan benar sehingga membentuk kita sebagai manujsia istimewa dengan 8 (delapan) karakter tersebut di atas. Pertanyaan pentingnya kemudian adalah “Apakah ibadah puasa ramadhan kita telah mampu menghantarkan kita meraih 8 karakter istimewa tersebut?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Dalam kaitan ini, menurut saya paling tidak ada 3 hal strategis yang harus dilakukan agar kita sukses dalam ibadah ramadhan. <strong><em>Pertama</em></strong><em>,</em> melakukan persiapan secara matang, baik persiapan jiwa agar kita memiliki kesiapan mental untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh kesenangan melaksanakannya, persiapan akal dengan memahami kembali ketentuan fiqih Ramadhan dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya, maupun persiapan jasmani dengan selalu menjaga dan meningkatkan kesehatan serta persiapan aktivitas pendukung suksesnya ibadah Ramadhan dengan berbagai aktivitas da’wah yang bermanfaat seperti pesantren Ramadhan, ceramah dan dialog Ramadhan dengan tema-tema yang disusun dengan baik, dll. Kalaulah selama ini diantara kita ada yang belum matang mempersiapkan, maka memasuki detik-detik terakhir penghujung ramadhan bukanlah masa yang sia-sia jika kita siapkan diri dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span><strong><em>Kedua</em></strong><em>,</em> berusaha sekuat tenaga untuk komitmen dan konsisten terhadap perencanaan yang sudah matang untuk menghidupkan Ramadhan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas berabagai ragam peribadatan di bulan ramadhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span><strong><em>Ketiga</em></strong><em>,</em> menindaklanjuti keberhasilan ibadah Ramadhan dengan sikap, prilaku yang lebih islami dan mengembangkan aktivitas keislaman yang lebih baik sesudah Ramadhan berakhir sehingga ibadah Ramadhan memberi bekas dan pengaruh yang positif, tidak hanya bagi individu tapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Kita temukan perubahan mendasar dalam diri kita yeng berdimensi kebaikan dari buah ibadaha ramadhan dan kita pelihara sekuat tenaga kebaikan tersebut sampai bertemu ramadhan lagi di tahun depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span>Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita yang amat memprihatinkan sekarang ini bila ditinjau dari berbagai aspek, maka Ramadhan merupakan momentum yang amat baik untuk memulai langkah-langkah perbaikan yang mendasar kearah yang diridhai Allah Swt. Mari kita bekali diri kita dengan 3 strategi di atas untuk mengisi sisa waktu Ramadhan. Dan selamat kembali kepada fitrah sebagai buahnya. Dan selamat menjadi manusia baru yang istimewa. Jika seluruh elemen bangsa ini komitmen 3 strategi di atas, mulai dari pejabat, pemimpin, birokrasi, pengusaha, dan seluruhnya saja masyarakat muslim di negeri ini, maka terbayang oleh kita bahwa tidak lama lagi akan terjadi perubahan mendasar ke arah kebaikan di negeri ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;" align="center"><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;">*****</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jabir-pks.org/2009/sukseskah-ibadah-ramadhan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
